Langit Jingga (Siluet Kerinduan)
Judul Cerpen Langit Jingga (Siluet Kerinduan)Cerpen Karangan: Sandhy Bayu Putra
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 24 January 2017
Ditemani debur ombak dan lembut belaian angin barat ia duduk di sana. Bersandar pada sebuah pohon nyiur yang melambai ia memendangi lepas pantai. Melihat keindahan bola jingga yang membias membentuk ribuan warna keemasan kala sinarnya menembus jutaan kubik air pasang yang menari tertiup angin. matanya tak luput dari satu titik. Cahaya lembut bola jingga. Semakin dalam ia memandanginya semakin jelas terlihat ada nanar di matanya yang menandakan sebentuk kesedihan yang mendalam. Sebuah luka yang tak berdarah juga tak berbekas namun sangat getir rasanya. Sebuah luka yang ia sendiri tak tau apa obatnya. Haruskah ku bersimpati padanya? Haruskah aku mendatanginya? Haruskah aku duduk di sampingnya, menepuk nepuk punggungnya dan berkata kau tak pernah sendirian? Haruskah kulakukan itu semua? Sebab hanya aku di sini yang melihatnya memandangi langit senja dengan nanar di matanya. Aku pun tak mengenal siapa dirinya dan darimana asalnya. Jadi haruskah…? Mengapa aku jadi terlalu memikirkannya, aku bisa berada di sini pun juga karena deru langkah kakiku yang terbawa kesini oleh segumpal ombak kepatah hatian. Aku pun tengah patah hati, mengetahui kenyataan yang berbeda sangat jauh dari segala macam ucapannya. Ucapan yang lebih manis dari madu sehingga membuatku tak bisa berpikir dengan jernih saat memutuskan untuk menjatuhkan hatiku pada pria brengsek itu. Kenapa aku jadi semakin larut dalam kepedihan? Mungkin karena aku melihatnya. Seorang pria yang duduk bersandar pada pohon nyiur yang melambai. Mungkinkah… aku bersimpati padanya.
Rasa simpati bercampur dengan penasaran membawaku ke tempatnya duduk sambil memandangi gumpalan bola jingga. Awalnya aku ragu namun kucoba melawan rasa itu demi… entah demi apa.
“Permisi, sedang apa kau di sini?” sapaku dengan nada ringan penuh penasaran
“…” Tak ada jawaban, bahkan menoleh pun tidak
“Bolehkah aku duduk di sini?” tanyaku dengan suara yang sedikit lebih keras
“…” Tetap tak ada jawaban darinya.
Sebenarnya seberapa dalam ia telah tenggelam di lautan itu, lautan yang kusebut dengan kepedihan.
“Jika kau ingin duduk maka duduklah” akhirnya dia mulai bicara
“Jika itu akan mengganggumu maka aku akan segera pergi”
“Tidak, kau tidak menggangguku”
“Lalu mengapa kau tidak mejawab sapaanku tadi?” kataku cetus
“Oh itu, itu karena tadi aku larut dalam lamunanku, maafkan aku tak membalas sapaanmu” ada senyuman tipis yang menyertai pernyataannya
“Sudah kuduga” sambil mencoba duduk di atas selayur daun kelapa
“Apa kau sedang bersedih?” tanyanya seakan bisa membaca pikiranku
“Apa maksudmu, aku tidak sedang bersedih”
“Tak usah kau sangkal, lantas mengapa kau datang ke tempat ini?” dengan tetap memandangi langit
“Aku… aku hanya ingin melihat keindahan tempat ini saja”
“Kau benar, namun setiap kali ada orang yang datang ke tempat ini pastilah orang itu sedang bersedih, sudah tak terhitung berapa banyak orang yang bersedih datang ke tempat ini, ini adalah tempat yang paling tepat untuk melepas kesedihan”
Kata-katanya membuatku tak bisa menahan kesedihanku semakin lama lagi
“Ya, aku memang sedang bersedih” pengakuanku padanya dengan nada yang sedikit merintih
“…” Dia hanya tersenyum lembut
“Tak ada yang menyalahkanmu jika kau bersedih, bersedih merupakan hak setiap makhluk” lanjutnya
“Bukan, Bukan itu maksudku” balasku menyanggah
“Apa kau pernah ke pantai sebelumnya?”
“Ya, pernah dengan seseorang, namun hanya sesekali”
“Aku pun demikian, bahkan aku sering ke pantai dengan orang yang kucinta”
“Lalu apa yang terjadi? Mengapa kau duduk di sini dengan pandangan seperti itu? Kau pasti tengah bersedih bukan?”
“…” hanya ada senyuman di wajahnya yang terbias cahaya langit sore seolah membentuk sebuah siluet senja
“Tak apa jika kau tak mau menjawabnya, itu merupakan hakmu bukan” ucapku sedikit cetus
“…” tersirat sebuah simpul senyuman diwajahnya yang membias semua tanya
“Wanitaku, sebut saja dia. Aku dan dia sering menghabiskan waktu berjalan di pesisir pantai sambil menikmati lembutnya buaian angin laut dan melihat air pasang yang menari nari. Aku dan dia sudah menjalani hubungan ini selama 12 tahun sedari masa SMA. Awalnya mungkin hanya cinta monyet namun lama lama cinta monyet itu berubah menjati cinta yang nyata. Kami telah banyak melewati segala macam cobaan cinta dan telah banyak yang terukir dalam masa. Tentang kita berdua, tentang tawa, air mata, duka, bahagia dan masih banyak lagi yang tak bisa kusebutkan satu persatu dengan kata-kata.” Ia mulai bercerita dengan sepasang mata yang tetap memandangi langit jingga
“Lalu apa yang terjadi dengan dirimu dan dia sekarang?” dengan tatap penasaran
“Ada suatu kejadian yang membuatku harus tertidur dalam waktu yang cukup lama, kejadian yang membuatku harus terpisah dengan dia dalam waktu yang sangat panjang”
“Kejadian apa?” bodoh kenapa aku bersimpati padanya.
Pria itu membuka saku yang ada di jaketnya lalu mengeluarkan selembar kertas Koran. Kemudian dia memberikan kertas Koran itu padaku
“Bacalah jika kau ingin tahu”
Aku pun membacanya, sebuah artikel tentang kecelakaan bus antar kota yang menewaskan setidaknya 30 orang meninggal dunia 15 orang luka ringan dan 15 orang luka berat serta 5 orang dalam keadaan kritis. Aku membacanya dengan penuh seksama. Mungkinkah pria ini…
“Aku adalah salah satu dari 5 rang yang dalam keadaan kritis itu” ucapnya
Rasa simpatiku perlahan mulai berubah
“Lalu apa yang terjadi selanjutnya dan bagai mana kau bisa sembuh sekarang?”
“Aku sadar setelah hampir tiga bulan koma”
“Koma? Memangnya seberapa parah lukamu?”
“Sangat parah itulah yang dikatakan oleh dokter. Dokter mangatakan bahwa ada sebuah pecahan kaca yang menusukku dan sampai merobek hatiku. Untung saja ada orang yang sangat baik hati mau mendonorkan hatinya untukku”
“Lalu bagaimana dengan dia? Dia pastinya menjengukmu bukan”
“Itulah permasalahanya, aku tak pernah melihat dia lagi setelah kejadian itu sampai saat ini”
“Dia meninggalkanmu begitu saja disaat kau tengah kritis?”
“Tidak, kau salah. Dia tidak meninggalkanku”
“Kau bilang sudah tidak bertemu dengannya lagi sampai saat ini”
“Malah sebaliknya, aku selalu bersama dirinya”
“Maksudmu?”
Pria itu terdiam untuk beberapa saat sambil memandangi langit senja
“Dialah orang yang telah berbaik hati mendonorkan hatinya padaku”
Seketika bulu kudukku berdiri dan bersamaan dengan deburan ombak yang menghempas batu karang serta angin yang bertiup melambai lambaikan nyiur tempat kami duduk bersandar, rasa simpatiku berubah menjadi sebuah empati
“Tapi mengapa?” tanyaku dengan wajah keheranan
“…” Ia hanya tersenyum padaku, sebuah senyum yang memiliki sejuta makna di dalamnya
Dia pun membuka kembali saku jaketnya dan mengeluarkan secarik kertas
“Bacalah”
Dia memberi secarik kertas itu padaku dan lagi lagi dengan seksama aku mulai membacanya
“Untuk Angga penerang resahku, pengusir hampa hatiku, teman dari segala sepiku
penghias semua mimpi-mimpi malamku serta impian masa depanku…
Angga setelah kau terima dan membaca surat ini, maka saat itulah ragaku sudah tak ada
bersamamu dan menemani setiap langkahmu mengarungi pesisir pantai ini lagi
Sayangku… aku titipkan hati ini bersamamu, bawalah kemana pun kakimu melangkah
Bawalah hatiku sebagai temanmu dikala kau menapaki pesisir pantai…
Jadikanlah hatiku sebagai temanmu disaat malam melanda
Dan jadikanlah hatiku sebagai pengingatmu akan ku
Untuk Angga cahaya cintaku…
Tiada kata yang dapat kusampaikan selain maaf serta terima kasih…
Telah mengembalikan musim semi di kehidupanku…
Aku akan pergi Angga…
Bukan untuk meninggalkanmu tapi untuk abadi bersamamu…
Jika kamu yakin akan diriku maka inilah jalan tebaik yang harus kulakukakan
Dan jika kamu merindukanku, bacalah surat ini dan pandangilah langit senjamu maka aku
akan memelukmu dari sini. Bukan dalam bentuk dekapan melainkan dalam hangatnya cahaya
mentari senja serta suara debur ombak dan belaian angin laut pasang
Maka saat itu kupastikan, ku kan melihat senyum di wajahmu yang kan selalu meneduhkanku.
Aku Mencintaimu Angga Prareksa Satria Putra
Anyer, 19 mei 2008
Dariku Sekar Arum Puspita Mahardini
Tak sadar air mataku menetes setiap kali aku mebacanya bait per bait. Tak kusangka ada orang yang mau melakukan hal seperti itu demi orang yang dikasihinya. Mungkinkah ini sebuah bentuk dari cinta sejati? kupikir cinta sejati hanya sebuah cuplikan kata yang munafik, namun setelah bertemu dengan pria ini aku sadar bahwa kenyataannya memang benar ada. Sebuah cinta sejati. pria itu mengambil kembali secarik surat itu dan segera mengantonginya di saku jaketnya lagi. Tangannya terasa lembut dan hangat, ia memandangi mentari senja dengan tatap yang teduh. Betapa beruntungnya pria ini bisa merasakan hangatnya sebuah cinta sejati. akankah diriku…
“Terimakasih kau sudah mau mendengarkan ceritaku, namun aku belum sempat mendengar ceritamu”
“Tak apa, mungkin dilain waktu kita akan bertemu lagi, kau bilang kan tempat ini selalu dikunjungi oleh orang-orang yang tengah bersedih dan patah hati jadi kita pasti akan bertemu lagi”
“Ya, aku juga akan selalu datang ke tempat ini untuk melepas rinduku”
Pertemuanku dengannya sungguh sangat diluar dugaan. Bagaimana pun juga sekarang aku jadi sedikit mengerti tentang pengorbanan cinta. Cinta ya… ternyata aku masih belum bisa memahami makna kata itu sampai saat ini. Aku takkan melupakan apa yang telah terjadi hari ini, sedikitpun tak akan pernah. Pria ini dan wanitanya telah mengajarkanku tentang sesuatu yang menjadi dasar dari segala bentuk hubungan cinta. Sebuah ketulusan, itulah dasarnya.
Dan sore pun berakhir dengan langit senja yang melukiskan siluet pria yang selalu memandangi langit jingganya.
0 Response to "Cerpen Cinta Langit Jingga"
Posting Komentar