BERJUANG TERUS TATANIG BUMI

Cerpen Cinta Sahabat

Cinta Sahabat

Judul Cerpen Cinta Sahabat
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 24 January 2017
  “ rara” panggil gadis berjilbab putih itu di koridor sekolah SMA PELITA ke gadis yang berjarak 10 meter darinya.
“hmmm…” gumam gadis yang tak lain bernama rara itu sambil menoleh menghadap gadis berjilbab itu
“kantin yuk” ajak gadis itu
“hmm, gak ah. Lagi bokek gua”
“ceilah, ngode ni bocah”
“hehe.. akhirnya peka juga”
“iya lah, emang lo. Dari tadi diliatin tapi gak peka-peka”
“diliatin sapa?”
“diliatin sama Al”
“hah? Al? Al-Ghazali kah? Mana? Mana? Mimpi apa gua semalem diliati ma Al-Ghazali”
“idih, pede amat lu. Bukan Al-Ghazali kalee. Tapi EMERALD”
“hah? Mana?”
“tuh” sambil menunjuk laki-laki berpostur tinggi yang berada di pinggir lapangan basket dengan kamera di tangannya. Laki-laki yang merupakan ketua osis sma pelita yang famous. Laki-laki yang dikenal hobi motret itu, tersenyum manis saat menyadari dirinya ditunjuk dan dilihat oleh gadis yang dari tadi diamatinya.
“ish, gak usah ditunjuk-tunjuk kaya gitu kali. Ngapain tu ketos ngeliatin kita?” tanya rara
“kita? Lo aja kali gua enggak”
“menurut lo ngapain ya dia ngeliatin gua”
“ya gak tau lah. Mungkin lo punya utang ma dia jadi dia ngeliatin lo”
“idih, ya kali gua ngutang. gua mah gak pernah ngutang”
“iye gak pernah ngutang, tapi suka malak”
“ck, lo kalo ngomong suka bener ya”
“haha. Ya lah, gua gitu loh”
“dah ah, daripada bahas gak jelas mending kita kantin aja”
“kantin? Katanya bokek?”
“yaelah, ya lo beliin gua lah”
“ck, kena lagi gua”
“dah ah yuk kantin, gua mulai lapar”
“makan snikers aja kakak”
“mana snickersnya?”
“di jonggol kali :v”
“hish, yok ah kantin, keburu rame ntar”
Kedua gadis itupun melangkah pergi menuju kantin sekolah. Di sisi lain, laki-laki yang berada di pinggir lapangan basket itu selalu memperhatikan kedua gadis itu sampai mereka hilang di tikungan kantin. Ia pun ikut melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang sama dengan kedua gadis itu.
“ra, lu yang pesen ya”
“siapp boss, mau pesen apa?”
“terserah lo aja deh”
“oke, wait ya” ucap rara
“GPL” kata amel
AMELl. Gadis berjilbab yang manis. Ditambah dengan gingsul yang mempercantik rupanya. Gadis yang baik hati, pengertian, penyayang dan humoris. Sosok sahabat yang luar biasa di mata rara.
RARA. Gadis cantik yang juga berjilbab. Gadis multi talent yang memiliki lesung pipi yang menawan. Gadis yang merendah saat yang lain memujinya, gadis yang memiliki selera humor yang tinggi dan mudah bergaul. Gadis yang terlihat sempurna apalagi dengan postur tubuh yang ideal bak model.
Mereka bersahabat belum sampai setahun. Tapi kekompakan mereka membuat penghuni SMA PELITA iri, apalagi mereka adalah gadis-gadis cerdas dan yang pastinya sangatlah famous. Mereka mempunyai hobi yang sama, kesukaan yang sama, dan kenangan yang hampir sama.
Tak berselang lama, rara datang dengan nampan yang penuh makanan.
“gile lo ra, banyak amat makananya”
“suka-suka gua lah”
“ck, habislah duit gua”
“yang sabar ya?”
“gua mah selalu sabar ra. Pokoknya besok lo yang bayarin gua makan”
“gampang itu mah. Yuk ah makan, keburu bel”
Saat mereka mau melahap makanan mereka, Sosok jangkung dengan tangan yang penuh dengan makanan dan minuman itu menghampiri kedua gadis itu.
“hey, boleh gabung ga? Soalnya meja lain udah penuh”
Amel menatap laki-laki itu dan berganti menatap rara. Rara hanya mengangkat bahu yang mengartikan “gak tau, terserah lo aja”
“boleh kok, gabung aja” ucap amel
“thanks” kata laki-laki yang tak lain adalah Al sambil menatap rara dan amel bergantian. Amel dan rara hanya mengangguk dan tersenyum.
Tak lama setelah mereka menghabiskan makanan mereka, bel pun berbunyi.
“gua duluan ya” kata Al
“ok” jawab rara dan amel bersamaan. Al pun pergi menuju kelasnya.
“eh ra” kata amel sambil menyenggol lengan rara
“paan” jawab amel sambil meminum jus apelnya
“kelas yok”
Mereka pergi menuju kelas dan belajar seperti pelajar pada umumnya.
Saat bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid berhamburan ke luar kelas. Begitu pun rara dan amel yang pergi menuju ke parkiran.
“ra maen yok”
“kemana”
“danau”
“oke, tapi sorean aja ya biar gak panas-panas amat”
“sipp, bawa coklat ya”
“selalu. Yuk ah balik mel”
Amel hanya mengangguk. Mereka pun menaiki mobil masing-masing dan pergi ke rumah.
Saat sore telah tiba, dua gadis itu sudah berada di danau. Danau yang menyimpan kenangan mereka masing-masing. Mereka berjalan menuju kursi besi di bawah pohon rindang yang menjadi tempat favorit mereka.
“ra”
“hmm”
“liat deh, itu bukannya Al ya?” tanya amel sambil menunjuk ke laki-laki yang sedang berjalan tentunya bersama kameranya.
“ish amel, kebiasaan amat si nunjuk-nunjuk ntar kalo dia ngeliat gimana”
“yee, biarin, emang kenapa kalo dia ngeliat?”
“ya gak enaklah amel”
“makan aja coklat pasti enak” sahut amel sambil merebut coklat dari tangan rara dan membuka bungkus coklat di genggamannya.
Akhirnya mereka berdua pun asik memakan coklat yang menjadi makanan kesukaan mereka. Tanpa mereka sadari, laki-laki itu memotret mereka, ya siapa lagi kalau bukan emerald.
Al pun menghampiri mereka.
“hi girls”
“hallo” jawab kedua gadis itu serempak
“lagi pada asik makan coklat ya?” tanya Al. Kedua gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum
“kalian berdua lucu deh, kaya anak kembar. Kalian kesini Cuma berdua?” tanyanya lagi. Dan kedua gadis itu pun hanya mengangguk mengiyakan
“hm, boleh gua gabung ma kalian?” dan kedua gadis itu pun hanya mengangguk lagi
“mau gua potret gak?” tanyanya. Amel mengangguk, tapi rara menggeleng. Mereka berpandangan lalu amel menggeleng, tapi rara pun menggeleng. Mereka berpandangan lagi lalu menggeleng dan mengangguk bersamaan
“hahah.. lo pada lucu banget si” kata Al. hanya senyuman manis yang diberikan oleh kedua gadis itu.
Mereka diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
“lo mau?” tanya rara ke Al, Al hanya diam menatap rara
“ni buat lo” ucap rara sambil menyodarkan sebatang coklat ke Al
“thanks ra?”
Rara hanya tersenyum dan mengangguk. Dan mereka pun sibuk dengan coklat masing-masing. Sampai sang surya hilang di ufuk barat pun mereka tak bergeming. Tak terasa suara adzan maghrib pun terdengar.
“udah adzan, shalat yuk” ajak rara
Mereka pun berjalan menuju masjid dekat danau. Seusai menunaikan shalat, mereka berniat pergi ke warung makan untuk mengisi perut mereka.
“pada mau pesen apa?” tanya Al
“gua jus apel aja” jawab rara
“gua baso bakar 10, siomay isi telor 1 porsi, keripik balado, tahu goreng kasih sambel gak pake saos, sama orange juice aja deh”
“yakin lo mel?” tanya rara
“yakin lah, kan lo yang bayar ra”
“emang gua bilang mau bayarin lo?”
“ngga si, tapi gua tau kok kalo lo itu orang yang baik banget jadi ya gua manfaatin aja kebaikan lo”
“dasar curut”
“haha.. gua pesen dulu ya” kata Al
Al pun beranjak dan pergi memesan makanan mereka. Rara menatap kosong jalanan yang ramai oleh pemuda pemudi. Amel memperhatikan rara yang slalu saja begitu saat mereka berada di warung makan ini. Amel tau ada sesuatu yang sulit dilupakan rara, sebuah kenangan yang belum lama berlalu. Tak lama Al pun datang dan membawa beberapa makanan diikuti waiters yang membawa nampan. Mereka melahap makanan mereka dan bercanda ria. Seusai makan rara menuju kasir diikuti Al. Saat rara hendak memberi uang ke kasirnya, Al menarik tangan rara dan berkata “biar gua aja”. rara menatap Al dan berjalan menuju meja mereka tadi. Saat Al sudah kembali, mereka pun memutuskan tuk pulang ke rumah.
Sejak kejadian itu, lama kelamaan entah mengapa mereka bertiga semakin dekat. Selalu bersama, bercanda ria. Bertiga. Bersama. Bahagia. Itulah yang mereka raskan. tanpa mereka sadari ada benih yang tumbuh di antara mereka bertiga.
Amel. Ada benih yang tumbuh untuk Al. Dan Al. Benih itu tumbuh untuk rara.
Rara yang menyadari ada sesuatu yang seharusnya tak layak untuk tumbuh pun mencoba untuk memberi sedikit hama untuk Al. Rara tidak ingin jika benih itu tumbuh dengan subur, justru akan membuat persahabatannya kandas seperti masa lalunya, masa lalu yang tak ingin lagi ia rasakan.
Al yang sudah tak sanggup untuk menyimpan perasaannya berniat untuk mengungkapkan perasaannya kepada rara. Al membuat rencana yang seindah mungkin untuk ungkapkan perasaannya, Al pun mengirim pesan untuk rara
“Ra lo bisa ke danau gak? gua tunggu ya. Dateng sendiri aja, gua mau ngomongin susuatu”
“oke” balas rara
Saat rara ke kamar untuk mengganti pakaian, tak sengaja amel membaca pesan dari Al. Amel penasaran apa yang akan Al katakan ke rara.
“mel gua pergi bentar ya”
“kemana?”
“kepo lo ah”
“ya udah sana pergi. Take care babe?”
Rara pun pergi ke danau sendiri. Tanpa disadari seorang gadis mengikutinya. Sesampainya rara di danau betapa terkejutnya ia karna danau itu tak seperti biasanya. Danau itu sekarang menjadi lebih indah dari biasanya. Gadis yang membututinya pun tak kalah terkejutnya dengan rara. Rara berjalan mengikuti kelopak bunga di tanah. Akhirnya rara pun berhenti tepat di kursi besi yang biasa ia duduki. Rara duduk dan tak lama Al pun datang.
“hey” sapa Al. Rara hanya menoleh dan tersenyum
“malem ini ko danaunya beda ya gak kayak biasanya. Oh iya, lo mau ngomong apa?” kata rara
Dengan perasaan yang tak menentu Al pun mengungkapkan perasaannya ke rara. Rara yang mendengar hanya diam. Ia tahu pasti akhirnya akan begini. Tak jauh dari mereka, gadis di balik pepohonan itu berusaha menahan air matanya, menahan rasa sakit akan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
“jadi gimana?” tanya Al memandang rara penuh arti
“hmm.. jujur gua sayang sama lo, tapi bukan untuk ini. Lo tau kan kalo pacaran itu tujuannya untuk putus. gua gak mau kalo akhirnya kayak gitu. Lebih baik kita sahabatan aja. Sahabat itu lebih indah daripada pacaran. Lagian gua juga gak mau ngancurin perasaan amel”
“hm, oke gua ngerti. gua bakal jadi sahabat terbaik buat lo sama amel. gua juga akan ngejaga perasaan sahabat gua”
Amel yang mendengar itu tak menyangka rara merelakan perasaannya hanya untuk dirinya.
Amel pun datang menghampiri mereka berdua dengan senyuman.
“ciee.. beduaan aja nieh, gua gak diajak. Aku mah apa atuh”
“amel!! Ko lo ada di sini?”
“suka-suka gua lah, gak ada yang larang juga kan” kata amel sambil ikut duduk
“gua sayang sama lo berdua. Cinta yang ada di hati gua ini Cuma cinta persahabatan, gak akan lebih. Karena gua gak mau ngerusak hal yang indah. gua yakin bersama untuk jadi sahabat selamanya lebih indah dari apapun, kalo nanti di antara kita emang ada yang berjodoh, mungkin itu takdir Tuhan. Lo berdua berarti banget buat gua” ujar amel dengan senyum manisnya.
Mereka pun berpelukan. Inilah cinta yang sesungguhnya. Cinta sahabat yang tak akan mati?. Love best

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Cerpen Cinta Sahabat"

Posting Komentar